Laporan
Praktikum Kimia
Titrasi
Asam Basa.
Nama:
Mohammad Toha Wismantaraharjo.
Kelas:
XI IPA II
Sekolah:
SMAN 5 Palangkaraya.
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke-hadirat Allah SWT atas
segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, saya yang masih dalam tahapan belajar
ini dapat menyelesaikan laporan kimia tentang titrasi asam-basa.
Dalam makalah ini saya menjelaskan mengenai penjelasan
secara singkat tentang titrasi asam-basa. Adapuan tujuan saya menulis laporan
ini yang utama untuk memenuhi tugas sekolah dari guru saya. Saya menulis
laporan ini untuk mengetahui lebih rinci mengenai titrasi asam-basa.
Saya menyadari laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu,diharapkan kritik dan saran pembaca demi
kesempurnaan laporan kami ini untuk ke depannya. Semoga laporan
ini bermanfaat bagi kita semua terutama
bagi pembaca khususnya siswa-siswi SMA Negeri 5 Palangkaraya.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita Amin.
Palangkaraya, 12 Februari 2013
Penulis
M. Toha Wismantaraharjo.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbicara masalah reaksi asam-basa atau yang biasa juga
disebut reaksi penetralan, maka tidak akan terlepas dari titrasi asam-basa.
Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa reaksi asam-basa atau reaksi penetralan
dapat dilakukan dengan titrasi asam-basa. Adapun titrasi asam-basa ini terdiri
dari titrasi asam kuat-basa kuat, titrasi asam kuat-basa lemah, titrasi basa
lemah-asam kuat, dan titrasi asam lemah-basa lemah. Titrasi asam-basa ini
ditentukan oleh titik ekuivalen (equivalent point) dengan menggunakan indikator
asam-basa.
Setelah mengetahui hal tersebut,
perlu juga kita ketahui bahwa titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan
kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui
konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang
terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam
basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang
melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang
melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
Zat yang akan
ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam
Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai
“titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant
biasanya berupa larutan. Pada laporan kali ini akan di jelaskan mengenai
titrasi asam-basa.
1.3 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.3.1
Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami serta menentukan konsentrasi asam atau basa melalui metode titrasi
dengan menggunakan alat bantu pipet tetes, stan, buret, dan alat titrasi, labu
elemenyer, statif/klem.
1.3.2
Tujuan Percobaan
Untuk menentukan kadar suatu larutan
HCL dengan menggunakan NaOH 0,1 M
1.4 Manfaat
Beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dari
percobaan/penelitian yang kita lakukan yaitu sebagai berikut.
Dengan adanya penelitian/percobaan ini yaitu pengetahuan
siswa menjadi lebih bertambah dalam menentukan konsentrasi asam/basa dari suatu
larutan yang diujikan sehingga diharapkan dapat bermanfaat pada kehidupan
sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
5.1 Titrasi Asam-Basa
Reaksi asam-basa dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi larutan asam atau larutan basa. Penentuan itu dilakukan dengan cara
meneteskan larutan basa yang telah diketahui konsentrasiya ke dalam sejumlah
larutan asam yang belum diketahui konsentrasinya atau sebaliknya. Penetesan
dilakukan hingga asam dan basa tepat habis bereaksi. Waktu penambahan hingga
asam dan basa tepat habis disebut titik ekuivalen. Dengan demikian, konsentrasi
asam atau basa dapat ditentukan jika salah satunya sudah diketahui. Proses
penetapan konsentrasi tersebut disebut titrasi asam-basa.
Titrasi merupakan suatu metode untuk
menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui
konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang
terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam
basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang
melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang
melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
Zat yang
akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di
dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut
sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun
titrant biasanya berupa larutan. Pada laporan kali ini akan di jelaskan
mengenai titrasi asam-basa.
5.2 Prinsip Titrasi Asam-Basa
Titrasi asam basa melibatkan asam
maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi
penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan
sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit
demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri
titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik
ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka
proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan
untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume
dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
5.3 Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan
titik ekuivalen pada titrasi asam basa.
Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi
dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk
memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah
“titik ekuivalent”.
Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada
titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna
ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya
cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat
tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi
asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH.
Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga
tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil
titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik
equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan
sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir
titrasi”.
5.4 Rumus Umum Titrasi
Pada saat titik ekuivalen maka
mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat
kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen
basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil
perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis
sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara
molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa,
sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)
BAB III
METODE KERJA
A.
Alat dan Bahan:
a.
Alat:
·
Labu elemenyer 125 mL
·
Statif/klem
·
Corong
·
Buret
·
Gelas ukur
·
Pipet gondok (volume pipet 10 ml)
·
Tabung Ukur
b. Bahan:
·
30 ml larutan HCl dalam sebuah
erlenmeyer
·
Secukupnya fenolftalein (PP) dalam
sebuah erlenmeyer
·
Larutan NaOH 30 ml
B.
Cara Kerja:
1.
Pipetlah
asam (Hcl) yang akan dicari konsentrasinya dengan pipet volume (pipet gondok)
sebanyak 10 ml.
2.
Masukkan
ke dalam labu elemenyer dan tambahkan beberapa tetes phenolphthalein (pp) pada
larutan Hcl tersebut.
3.
Siapkan
buret, masukkan larutan NaOH 0,1 M ke dalam buret itu dengan menggunakan
corong.
4.
Titrasilah
asam (Hcl) dengan NaOH, dengan cara membuka kran buret tersebut.
5.
Pada saat
larutan berwarna merah muda, hentikan titrasi dan catat jumlah NaOH yang
digunakan.
6.
Ulangi
titrasi ini sampai diperoleh hasil yg tetap.
BAB
IV
Hasil
Pengamatan dan Analisis Data.
A.
Hasil Pengamatan.
|
Percobaan.
|
Volume Hcl
|
Volume NaOH
|
|
I
|
10 mL
|
18,6
|
|
II
|
10 mL
|
18,6
|
|
|
|
Rata-rata: 18,6
|
B.
Analisis data dan pertanyaan.
1. Mengapa kita perlu
mengukur volume asam (Hcl) yang akan di titrasi dengan pipet gondok?
- Karena fungsi dari
pipet gondok adalah untuk mengambil larutan dengan volume yang tepat sesuai
dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian
tengah pipet. Jadi menggunakan pipet gondok karena jika volume Hcl diukur
dengan pipet gondok maka memiliki ketelitian yang tinggi.
2. Apa yang menandai
bahwa titrasi selesai?
- Titrasi selesai pada
saat Hcl sebagai titer berubah warna menjadi merah muda.
3. Setelah titrasi
dilakukan berulang-ulang, berapakah volume rata-rata dari NaOH untuk
menetralkan Hcl? Hitunglah konsentrasi (mol/L) dari larutan Hcl yang dititrasi!
- M1
= 0,1 V1 = 18,6 V2 = 10 M2
= ?
0,1/18,6 = 10/ M2
M2 = 0,1X10 = 1/18,6 = 0,053 M.
4. Kesimpulan apa yang
dapat diambil dari hasil pengamatan pada percobaan diatas?
- Kesimpulan akan di
jelaskan pada bab V di bawah.
BAB
V
Penutup
Kadar atau konsentrasi
HCl (asam) dapat ditentukan melalui proses titrasi, yaitu dengan mereaksikan
HCl (titrat) yang ditambahkan 2 tetes indicator PP dengan NaOH (titran).
Titrasi harus dihentikan bila larutan HCl yang dicampurkan dengan 2 tetes
indikator berubah warna dari bening hingga menjadi pink. Volume NaOH yang
digunakan akan mempengaruhi hasil konsentrasi dari HCl tersebut, sehingga harus
sangat berhati-hati melakukan praktikum ini. Setelah volume NaOH (basa)
diketahui, barulah Konsentrasi HCl (asam) bisa dihitung.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan